#Topik

147 Peserta Padati Sosialisasi Pengelolaan Sampah Pusdal LH Sulawesi dan Maluku

Konotasi.co.id -

Konotasi–Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Sulawesi dan Maluku melaksanakan kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah.

Kegiatan yang dilaksanakan 2 Agustus 2025 lalu ini bertemakan “Bersih itu Keren, Peduli itu Hebat” yang diikuti oleh 147 peserta yang sangat antusias.

Dalam kegiatan ini, dihadiri pula narasumber berkompeten dari instansi pemerintah, komunitas, dan lembaga terkait. Diantaranya, Ketua Pusdal LH Sulawesi dan Maluku, Azri Rasul, Urban Agrofarm, Muh. Musqit Rais Ishak, dan Rappo Indonesia, Giofany Firmansyah.

Ketua Panitia Pelaksana, Andi Fenita Aysila menyampaikan apresiasi dan ucapan terimakasih kepada pihak penyelenggara atas dukungan dana layanan masyarakat small Grant. Dia juga berterima kasih kepada Pusdal LH yang telah memberi wadah dan fasilitas diskusi ini

Dalam paparannya, Azri Rasul menguraikan besarnya masalah timbulan sampah di Kota Makassar yang mencapai ±1.100 ton per hari dari populasi sekitar 1,7 juta jiwa.

Selain menyajikan data dan visual kondisi pencemaran sampah di kanal serta sumber air, ia menekankan pentingnya regulasi melalui UU No. 18 Tahun 2008 dan Perda Kota Makassar No. 21 Tahun 2023 tentang pelarangan penggunaan plastik.

Dia juga mendorong peserta untuk tidak berhenti pada teori, melainkan melakukan aksi nyata seperti mengurangi timbulan sampah melalui green lifestyle, aktif menjadi nasabah bank sampah, dan mengkampanyekan gaya hidup ramah lingkungan.

Sementara itu, Muh. Muqsit Rais Ishak dari Urban Agrofarm memaparkan solusi pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF).

“65% komposisi sampah di Makassar berasal dari sisa makanan, dan maggot BSF mampu mengurai hingga 80% sampah organik tanpa menimbulkan bau. Selain ramah lingkungan, budidaya ini juga bernilai ekonomis karena maggot dapat dijadikan pakan ternak dan kasgotnya dimanfaatkan sebagai pupuk,” katanya.

Peserta juga diperkenalkan dengan tahapan budidaya maggot hingga praktik sederhana pengolahan sampah organik rumah tangga.

Adapun Giofany Firmansyah dari Rappo Indonesia mengangkat isu krisis sampah plastik di Indonesia, yang pada tahun 2024 mencapai sekitar 34 juta ton, dengan hampir 40% belum terkelola. Ia menekankan pentingnya penerapan prinsip Reduce, Reuse, Recycle untuk mengurangi dampak bahaya mikroplastik terhadap kesehatan dan lingkungan.

Giofany juga memperkenalkan model bisnis upcycle dan circular economy yang dijalankan Rappo Indonesia sejak 2020, yakni mengubah limbah plastik menjadi furniture dan produk daur ulang bernilai jual. Inisiatif ini tidak hanya menjadi solusi lingkungan, tetapi juga membuka lapangan kerja inklusif bagi perempuan di pesisir dan kelompok pra-sejahtera.

Antusiasme peserta tampak jelas sepanjang kegiatan salah satu peserta, Putri Ratu.

“Kegiatan ini merupakan kegiatan yang sangat luar biasa karena pada kegiatan ini saya baru tahu bahwa sampah organik itu memiliki nilai rupiah dan bisa dimanfaatkan kembali serta bagaimana cara memilah sampah yang baik dan benar dari kegiatan ini saya bisa lebih tahu tentang lingkungan serta berkomitmen untuk melakukan aksi peduli lingkungan dari diri aku sendiri terlebih dahulu namun tidak menutup kemungkinan aku akan mengajak masyarakat lainnya untuk bisa menjaga dan melestarikan lingkungan dimulai dari pemilahan sampah rumah tangga harapannya semoga kegiatan ini masih bisa berlanjut dan lebih banyak mengedukasi masyarakat yang ada di seluruh Indonesia khususnya di Kota Makassar,” jelasnya.

Diskusi interaktif, sesi tanya jawab, hingga demonstrasi praktik pengelolaan sampah organik dan anorganik berlangsung dinamis. Kegiatan ini juga diisi dengan ice breaking, kampanye digital, dan diakhiri dengan sesi foto bersama.

Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh semangat baru dalam gerakan peduli lingkungan, khususnya di Kota Makassar, untuk mewujudkan kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *