#Topik

Kata Ekonom Atas Divestasi Vale, Tambang Asing yang Kini Dikuasai Indonesia

Konotasi.co.id -
Foto-Dr. Bahtiar Maddatuang

Konotasi— Ekonom Bahtiar Maddatuang turut berkomentar atas capaian Pemerintah melalui Holding BUMN Pertambangan MIND ID yang resmi menggenggam kepemilikan saham mayoritas di PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Hal tersebut seiring dengan adanya penandatanganan dokumen transaksi pengambilalihan saham divestasi 14% pada tahun 2024 ini. Selasa, (31/12/2024).

Bahtiar sapaan akrab mantan Rektor Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi AMKOP Makassar tersebut, menilai gebrakan yang diambil Pemerintah menaikkan kepemilikan saham dari 20 persen ke 34 persen adalah sebuah langkah maju.

“Divestasi yang telah dilakukan Pemerintah terhadap PT Vale melalui Holding tambang BUMN MIND.ID adalah sebuah langkah maju dalam memberikan dampak yang besar terhadap kesejahteraan rakyat, dengan kepemilikan mayoritas sebesar 34% di PT Vale Pemerintah akan mendapatkan porsi yang signifikan di Korporasi Vale,” tulisnya saat diwawancara Konotasi.

Lebih lanjut Ekonom muda yang saat ini menjabat Direktur Politeknik Nusantara tersebut menilai nasionalisasi aset adalah solusi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

“Nasionalisasi dengan model kepemilikan saham mayoritas di industri-industri strategis yang berbasis SDA (sumber daya alam) kita memang sangat mendasar untuk kesejahteraan rakyat kita, karna dengan jalan nasionalisasi dengan model saham mayoritas, problem defisit APBN kita yg menjadi masalah klasik bisa menjadi solusi,” tutupnya.

Sejatinya, aksi pengambilalihan saham tambang milik asing yang ada di Indonesia ini bukan yang pertama kalinya. Sebelumnya, pada tahun 2018 pemerintahan Presiden Jokowi resmi menjadi pemilik saham mayoritas atau 51,2% saham PT Freeport Indonesia (PTFI) melalui MIND ID.

Divestasi Vale sendiri merupakan salah satu syarat agar Kontrak Karya (KK) perusahaan yang akan berakhir pada Desember 2025 bisa diperpanjang menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).

Dikutip dari CNBC Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi pada saat itu, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan divestasi saham INCO menjadi pertanda penting bagi program hilirisasi nikel Indonesia ke depannya. Terutama untuk menyuplai kebutuhan produk turunan nikel kepada pasar Eropa dan Amerika Serikat.

Luhut membeberkan pihaknya baru saja kembali dari AS untuk mendiskusikan mengenai kebijakan pengurangan inflasi atau Inflation Reduction Act (IRA) dengan pemerintahan AS. Mengingat, melalui kebijakan ini, pabrik atau kendaraan listrik yang mendapatkan pasokan nikel dari RI dikecualikan dari insentif hijau pemerintah AS.

“Kita berharap itu bisa kita tuntaskan dalam beberapa waktu ke depan tentu agak terhambat karena pemilu presiden di sana,” ujar Luhut pada acara penandatanganan Divestasi Vale Indonesia di Jakarta, dikutip Selasa (27/2/2024).

Selain itu, Luhut juga mendorong agar program hilirisasi yang dilakukan PT Vale dapat digenjot kembali. Pasalnya, program hilirisasi yang dilakukan perusahaan masih tertinggal dengan perusahaan lain.

Meski demikian, ia mengakui Vale sebagai salah satu perusahaan nikel terbesar di Indonesia memiliki pengelolaan ESG yang baik.

“Jadi jangan ada juga berkomentar kita hilirisasi dari sendok garpu kita lakukan. Dari iron steel kami ingin turun sampai kepada perangkat dapur juga yang menggunakan, ini bisa dibuat Indonesia, sehingga betul-betul downstreaming ini sampai kepada hal-hal sekecil-kecilnya, saya kira itu akan menciptakan lapangan kerja,” kata Luhut.

Sebagaimana diketahui, MIND ID menjadi pemegang saham terbesar dengan total kepemilikan 34%. Sementara itu, VCL dan SMM masing-masing memiliki 33,9% dan 11,5%. Sedangkan sekitar 20,6% masih dimiliki publik melalui Bursa Efek Indonesia.

Redaksi Konotasi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *