#Topik

Kekeliruan Cara Pandang Orang Sulawesi Terhadap Sesama

Konotasi.co.id -

Penulis: Sultan

Opini–Pernahkah kita menyimak video anak-anak di luar negeri ketika ditanya tentang cita-cita mereka?

Alih-alih menjawab ingin menjadi dokter, tentara, atau polisi seperti yang lazim kita dengar di sini, banyak dari mereka justru menyebut profesi seperti petugas kebersihan, satpam, atau sopir truk sebagai cita-cita mereka. Sekilas terdengar mengejutkan namun inilah hasil dari sebuah sistem pendidikan dan budaya yang mengajarkan bahwa setiap peran dalam masyarakat adalah bagian penting dari satu kesatuan sistem sosial yang saling bergantung dan saling menghargai.

Mereka tumbuh dalam lingkungan yang memberi respect kepada semua jenis pekerjaan, tak hanya profesi yang dipandang “elit”. Sekolah dan komunitas secara aktif memberikan penghargaan bukan hanya kepada siswa yang lolos ke universitas ternama, tetapi juga kepada mereka yang bekerja di toko, menjadi teknisi, atau memilih jalur kerja langsung setelah sekolah. Semua profesi diberi tempat terhormat karena kontribusinya terhadap kehidupan bersama.

Sebaliknya, kita di sini seringkali terjebak dalam budaya pengakuan yang sempit. Penghargaan lebih sering diberikan hanya kepada mereka yang lolos seleksi perguruan tinggi atau masuk instansi bergengsi. Padahal, keberhasilan bukan hanya soal gelar akademik, melainkan juga soal peran yang dijalani dengan tanggung jawab dan integritas.

Coba bayangkan jika sekolah-sekolah di Indonesia mulai membuat pamflet ucapan selamat untuk siswa yang diterima bekerja di swalayan, pabrik, atau toko kelontong. Bayangkan bagaimana hal ini bisa mengangkat martabat kerja dan menumbuhkan rasa percaya diri generasi muda yang memilih jalur berbeda. Inilah bentuk nyata dari pendidikan yang memanusiakan manusia, bukan sekadar mencetak lulusan.

Fenomena serupa juga bisa kita lihat dalam tradisi sosial, seperti hajatan pernikahan. Ketika menghadiri acara keluarga dari kalangan mampu, banyak dari kita merasa malu jika membawa “assolo’” (amplop sumbangan) dalam jumlah kecil bahkan rela berutang demi menjaga gengsi. Sebaliknya, ketika menghadiri hajatan keluarga sederhana, rasa-rasanya memberi Rp10.000–50.000 dianggap cukup. Ini mencerminkan bahwa kita masih menilai layak tidaknya penghargaan berdasarkan status ekonomi, bukan nilai kebersamaan dan niat baik.

Sosiolog Émile Durkheim pernah mengatakan bahwa masyarakat adalah sistem yang terdiri dari fungsi-fungsi berbeda namun saling menopang. Jika kita mengabaikan fungsi yang dianggap “kecil”, maka keseluruhan sistem akan pincang.

Sementara Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa penghargaan simbolik dalam masyarakat sering kali hanya diberikan pada mereka yang memiliki “modal” tertentu: pendidikan, uang, atau jabatan padahal kontribusi sosial jauh lebih luas dari itu.

Sudah saatnya kita merevolusi cara pandang terhadap pekerjaan, profesi, dan status sosial. Menghargai semua peran adalah langkah awal menuju masyarakat yang lebih adil dan sehat secara sosial.
Bukan hanya soal siapa yang lulus S1, tapi juga siapa yang menjaga kebersihan lingkungan kita, melayani di kasir, menjaga keamanan, dan membuat roda kehidupan tetap berputar.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *