#Topik

Pemerintah Setop Impor Beras, Ekonom Dr Bahtiar: Saatnya Pemerintah Genjot Swasembada

Konotasi.co.id -

Konotasi–Pemerintah Indonesia telah memutuskan berhenti mengimpor beras dan akan fokus memaksimalkan produksi dalam negeri, hal itu direspon baik oleh para Ekonom, salah satunya Dr Bahtiar Maddatuang.

Ekonom muda yang pernah memimpin Amkop Bussines School atau Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Amkop Makassar (2014-2024) itu menilai kebijakan pemerintah sangat strategis untuk meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia.

“Kebijakan ini merupakan kebijakan yang baik untuk meningkatkan kesejahteraan petani kita, saatnya pemerintah genjot swasembada, perputaran uang akan semakin meningkat dengan produksi yang meningkat, tentu ini akan menjadi modal untuk meningkatkan potensi kita mencapai target Ekonomi 8%,” kata ekonom asal Sulawasi tersebut.

Namun, kata Dr Bahtiar, perhatian khusus harus diberikan kepada petani dalam negri guna memaksimalkan produksi pertanian kita. “Jika ingin mendorong swasembada pangan maka inti kebijakannya adalah keberpihakan pada petani yang riil, dari perencanaan penyuburan lahan sampai pemasaran produk yang maksimal,” tambah Dr Bahtiar saat diwawancara, Jumat 10/1/2024.

“Langkah kongkrit lainnya adalah menggenjot produksi petani kita untuk swasembada sesuai Asta Cita Prabowo, dalam meningkatkan produksi tentu ditopang oleh banyak hal, seperti bibit yang unggul, alat pertanian yang memudahkan, irigasi pengairan yang mumpuni dan jalur transportasi yang menunjang kemudahan petani,” tambahnya.

Lebih lanjut, Dr Bahtiar bilang selain produksi hingga proses panen, tetapi juga tahap setelahnya harus didukung penuh pemerintah.

“Setelah beras melimpah, tinggal bagaimana hasilnya bisa didistribusikan di dalam negeri, mengingat kebutuhan dalam negeri sangat besar, selama ini kan kita mengimpor. Tapi kalau kita maksimalkan bahkan kita bisa mengekspor hasil produksi petani kita,” ungkap Dr Bahtiar.

Kebijakan pemberhentian impor beras oleh Indonesia tak hanya baik bagi Petani, tetapi juga berdampak pada harga beras dunia yang mengalami penurunan harga yang signifikan. Laporan Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga beras dunia mulai turun, sejak Indonesia memutuskan untuk tak lagi impor.

Hal ini disampaikan Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi kepada Menko Pangan Pangan Zulkifli Hasan dan pihak terkait lainnya dalam rapat di Serang, Banten, pada Jumat (10/1/2025).

“Ternyata kebijakan kita turut memicu harga beras di pasar dunia turun. Begitu Pak Menko (Pangan) sampaikan bahwa kita tidak mengimpor empat produk pangan, salah satunya beras,” demikian kata Arief, seperti dikutip dari Antara.

Arief pun memberi gambaran penurunan harga beras dunia yang dimaksud. Harga beras di beberapa negara turun mulai dari US$ 640 per metrik ton menjadi US$ 490-590 per metrik ton. Bahkan, beberapa hari belakangan harga beras dunia sudah mendekati US$ 400 per metrik ton.

Jadi luar biasa kebijakan kita hari ini,” beber Arief.

Bapanas juga mengacu data perkembangan harga beras putih (free on board) dari beberapa negara, terlihat rata-rata harga beras dari Thailand, Vietnam, Pakistan, dan Myanmar pada Januari 2024 berada di rentang harga US$ 622-655 per metrik ton.

Angka itu mulai turun 19 Desember 2024 atau pada momen setelah pengumuman setop impor beras Indonesia. Harga beras di sejumlah negara tadi dalam rentang US$ 455-514 per metrik ton.

“Di bulan ini, India sudah mulai membuka keran ekspornya. Tren harga beras putih pun semakin menurun pada 8 Januari 2025 menjadi rentang US$ 430-490 per metrik ton,” jelas Arief.

Sementara itu, berdasarkan The FAO All Rice Price Index (FARPI) menyebutkan Indeks di Desember 2024 turun 1,2 persen dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 119,2 poin. Namun dilihat secara setahun penuh, rerata indeks FARPI di 2024 masih lebih tinggi 0,8 persen dibandingkan tahun 2023.

Kendati harga beras turun, Arief memastikan kesejahteraan petani di Indonesia tetap meningkat. Hal tersebut tercermin dari perkembangan indeks Nilai Tukar Petani Pangan (NTPP).

NTPP di Februari 2024 berada di level 120,30 atau menjadi yang paling tinggi dalam 5 tahun terakhir. NTPP di Desember 2024 disebut masih dalam rentang cukup baik di atas level 100, dengan angka 108,90.

“Harga beras di dunia turun, namun harga petani kita disesuaikan lebih baik lagi, menjelang panen raya tahun ini. Sekali lagi terima kasih kebijakan kepada petani Indonesia,” sebut Arief.

Dampak positif lainnya dari penurunan harga beras adalah tingkat inflasi yang tetap terjaga. Tingkat inflasi umum secara tahunan di 2024 menjadi yang terbaik sejak tahun 1958 dengan raihan 1,54%.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, tingkat inflasi yang baik ini salah satunya dipengaruhi penurunan harga komoditas pangan yang lebih stabil dalam 2 tahun terakhir pada tahun 2024.

“Tentu kita ingin terus membentuk ekosistem pangan yang ideal. Di hulu, petani kita terus berproduksi dan memperoleh harga yang baik. Di hilir pun inflasi pun terkendali dengan baik,” kata Ketua Bapanas.

Arief menambahkan, stabilitas yang sudah terjaga saat ini perlu dirawat Bapanas dengan melakukan penyerapan produksi beras dari para petani. Langkah ini sesuai dengan instruksi langsung dari Presiden Prabowo, baru-baru ini.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *