Program MBG Dinilai Menjadi Strategi Utama Dalam Mengatasi Kedaruratan Tersembunyi Akibat Stunting

Konotasi–Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia, Dodi Izwardi, menegaskan bahwa program Makanan Bergizi Gratis (MBG) merupakan langkah strategis untuk menangani fenomena “kedaruratan tersembunyi” atau silent emergency akibat dampak jangka panjang stunting di Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa stunting tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan fisik, tetapi juga berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia sepanjang siklus kehidupan. Dampaknya bersifat kumulatif dan sering kali baru terlihat pada penurunan kemampuan belajar serta produktivitas di masa depan. Oleh karena itu, intervensi melalui konsumsi makanan bergizi seimbang secara berkelanjutan menjadi kunci, yang kini difasilitasi melalui program MBG.
Lebih lanjut, berdasarkan pendekatan Teori Barker, individu yang mengalami stunting memiliki risiko lebih tinggi terhadap berbagai penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung koroner, hipertensi, osteoporosis, hingga diabetes tipe dua, serta gangguan kesehatan mental. Kondisi inilah yang disebut sebagai kedaruratan tersembunyi karena dampaknya tidak langsung terlihat, tetapi berpengaruh besar terhadap kualitas generasi mendatang.
Dodi menekankan bahwa masih terdapat sebagian pihak yang meragukan urgensi program MBG karena belum memahami dampak lintas generasi dari stunting. Padahal, menurutnya, program ini menjadi salah satu mata rantai penting yang selama ini belum diimplementasikan secara masif dan terstruktur dalam sistem pemenuhan gizi nasional.
Sebagai bentuk dukungan, Persagi bersama puluhan ribu tenaga ahli gizi berkomitmen memperkuat kualitas program melalui peningkatan kompetensi dan sertifikasi tenaga pengawas gizi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Selain itu, sinergi dengan pelaku usaha juga dilakukan untuk memastikan rantai pasok pangan dan lingkungan konsumsi tetap memenuhi standar kesehatan.
Ia optimistis bahwa melalui implementasi yang konsisten dan dukungan lintas sektor, program MBG dapat berkontribusi signifikan dalam menurunkan angka stunting serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia menuju target Indonesia Emas 2045.

































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































