Indonesia Perkenalkan Perjuangan R.A. Kartini Melalui Pameran Di Paris

Konotasi–Indonesia menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Kartini Letters: A Spark in the Memory of the World” di kantor pusat UNESCO di Paris sebagai upaya menegaskan kontribusi pemikiran Raden Ajeng Kartini terhadap pengembangan pendidikan dan kesetaraan gender di tingkat global.
Duta Besar RI untuk UNESCO, Mohammad Oemar, menyampaikan bahwa Kartini merupakan figur visioner yang menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama dalam pemberdayaan perempuan. Ia menekankan bahwa gagasan Kartini tidak hanya berorientasi pada keadilan sosial, tetapi juga memiliki relevansi strategis dalam mendorong pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kantor Wakil Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO bersama Delegasi Tetap Kerajaan Belanda tersebut dihadiri sekitar 100 delegasi. Para peserta menunjukkan apresiasi terhadap pemikiran Kartini dengan mendalami isi surat-suratnya yang sarat dengan refleksi kritis mengenai pendidikan dan posisi perempuan.
Duta Besar Kerajaan Belanda untuk UNESCO, Monique Van Daalen, menilai bahwa korespondensi Kartini mencerminkan pandangan progresif terkait peran perempuan serta pentingnya akses pendidikan bagi anak perempuan. Menurutnya, isu tersebut tetap aktual dan sejalan dengan agenda global UNESCO dalam memperluas akses pendidikan dan mendorong kesetaraan gender.
Selain itu, kegiatan tersebut juga diisi dengan diskusi buku The Most Beautiful Letters from Kartini yang menghadirkan Lara Nuberg dan Feba Sukmana. Diskusi ini memperdalam pemahaman terhadap pemikiran Kartini, termasuk kritiknya terhadap praktik kolonialisme serta berbagai bentuk pembatasan terhadap perempuan.
Salah satu peserta, Chyna Bong A Jan, menyebut Kartini sebagai pelopor feminisme yang tetap relevan dan inspiratif dalam konteks perjuangan hak-hak perempuan masa kini.
Lebih lanjut, surat-surat Kartini yang telah terdaftar dalam Memory of the World Register UNESCO pada tahun 2025 dipandang sebagai tonggak penting pengakuan internasional terhadap warisan intelektual Indonesia, khususnya dalam isu kesetaraan, pendidikan, dan hak asasi manusia.
Melalui penyelenggaraan kegiatan ini, Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat pemberdayaan perempuan serta berkontribusi aktif dalam agenda global guna mewujudkan kesetaraan gender yang berkelanjutan.












































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































